Dari segi filsafat ilmu (ontologi-epistemologi-aksiologi) saja, sebetulnya tidak ada penjelasan ilmiah yang benar-benar objektif, hanya di bidang yang disebut eksakta (ilmu pasti) sekalipun. Sebuah objek atau fenomena alam yang diamati dengan ilmu fisika misalnya; harus dianalisa, diukur dan dirumuskan dengan teori fisika yang disusun oleh para fisikawan dengan asumsi, paradigma dan postulat mereka masing-masing. Istilahnya, melakukan pengamatan secara objektif dengan berbagai pendekatan yang bersifat subjektif.
Jadi jangan terpaku, terpesona dan tertipu dengan objektifisme. Objektif menurut siapa dulu? (Jadi, subjektif juga kan? :-) Tapi okelah, kita terima saja istilah realitas objektif dan subjektif itu.
Untuk jelasnya, mari kita langsung ke contoh kasus.
Tsunami!
Apa itu tsunami?
Menurut realitas objektif, tsunami adalah gelombang laut pasang dengan volume dan kecepatan tinggi dari lautan ke daratan. Kenapa gelombang itu terjadi? Karena adanya tekanan yang sangat kuat terhadap air laut. Kenapa tekanan itu terjadi? Karena adanya massa laut yang berpindah secara tiba-tiba. Kenapa massa laut itu berpindah? Karena adanya gempa atau gerakan kerak bumi di dasar laut. Kenapa terjadi gempa? Karena lapisan kerak bumi itu selalu bergerak. Kenapa kerak bumi itu bergerak? Karena sifat lapisan bumi itu begitu dan begini. Kenapa bumi bersifat begitu? Karena bumi terbentuk dari seciprat massa matahari yang terlepas kemudian mendingin dst... dst... (Kenapa-karena lanjutkan saja sendiri).
Kalau penjelasan di atas terus diusut tuntas sampai ke pangkalnya maka akan tiba pada satu titik awal mula (detik nol) terjadinya alam semesta. Di sinilah sains buntu. Pengembaraan empirik berhenti sampai di situ. Manusia diperhadapkan kepada dua pilihan. Menerka bahwa segala fenomena tersebut terjadi "begitu saja" (sekedar proses tanpa sebab) ataukah harus menerima kenyataan ada-Nya Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai penyebab segala sesuatu.
Orang yang memilih (secara subjektif, jadi tidak objektif lagi) opsi "begitu saja" sesungguhnya tidak menjawab apa-apa, artinya dia memilih untuk tetap buntu dan tidak tahu, bahkan dia mengabaikan jawaban pasti tentang adanya Tuhan pencipta alam semesta yang maha besar, rumit, teratur, indah sekaligus penuh dengan kejutan ini.
Adapun orang yang menjatuhkan pilihan waras tentang adanya Tuhan, melihat tsunami itu sebagai suatu rentetan kejadian (proses) dari keseluruhan rentetan kejadian yang telah ditetapkan dan ditakdirkan oleh Tuhan sejak awal penciptaan alam hingga hari berakhirnya alam (kiamat) kelak.
Menyadari eksistensi Tuhan, itu baru starting point untuk beriman. Setelah mendapatkan kabar tentang adanya berita langit (wahyu) dari Tuhan yang dibawa oleh seorang Nabi, seseorang diperhadapkan kepada pilihan untuk menerima adanya wahyu itu atau tidak. Bila ia dengan intuisi fitrahnya (hidayah) mempercayai kabar tersebut maka ia harus menghadapi pergumulan pilihan selanjutnya untuk menerima kebenaran al-Quran sebagai salah satu wahyu dari Allah.
Bila ia kemudian beriman kepada Muhammad sebagai Nabi dan Rasul terakhir, maka pekerjaan selanjutnya adalah mencari dan mengkaji ajaran Islam yang shahih (valid) dan asli (orisinal). Bila ia dengan kesungguhan dan keikhlasannya berhasil menemukan ajaran Islam yang murni dan bersih dari distorsi takwil dan kontaminasi bid'ah, maka menjadilah ia manusia muslim yang istiqamah (berada di atas jalan yang lurus, jalan para Nabi dan pengikut-pengikutnya).
Seorang yang beriman akan memandang peristiwa tsunami disamping secara objektif (alamiah) juga secara subjektif (rabbaniyah). Pengetahuan objektifnya tentang tsunami mungkin tidak berbeda jauh dengan orang lain. Tapi ditambah dengan pengetahuan subjektifnya bahwa tsunami adalah fitnah (siksaan dan ujian) bagi manusia.
Apa yang terjadi itu, ya begitulah; tidak usah ada pertanyaan "kenapa-kenapaan". Kalau begitu, apa bedanya manusia dengan binatang dalam menyaksikan fenomena alam? Bedanya hanya pada level kedalaman observasi dan kemampuan aplikasi. Malah mungkin dengan naluri indera keenamnya yang mampu menangkap sinyal "peringatan dini", hewan-hewan lebih antisipatif terhadap bencana ketimbang manusia.
Tidak bisa tidak! Pertanyaan yang selalu mengusik qalbu manusia tentang "kenapa, ada apa di balik semua ini?" tidak lain adalah cermin fitrah beragama manusia. Manusia sadar akan adanya Pencipta Yang Maha Kuasa. Manusia sadar akan adanya kehidupan yang hakiki nan abadi sesudah kematian dan kiamat kelak. Fitrah manusia pun sadar bahwa hidup di dunia ini harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Dan perhitungan serta timbangan kebenaran dan kebaikan itu ada di sisi Tuhan yang disampaikan lewat wahyu, risalah dan agama.
Nah, bila ada orang yang mengatakan bahwa tsunami terjadi karena adanya perayaan natal pertama kali di Aceh maka itu adalah ungkapan subjektif yang sesuai dengan logika keimanan. Tidak salah dan tidak aneh! Ungkapan itu benar secara subjektif dan objektif sekaligus.
Terjadinya tsunami adalah objektif, perayaan natal juga objektif. Kedua objek kejadian itu dihubungkan secara subjektif dengan logika keimanan bahwa perayaan natal adalah kepercayaan kufur dan perbuatan syirik yang tidak diridhai oleh Allah, sedang tsunami adalah salah satu bentuk fitnah (ujian dan siksaan) yang diciptakan oleh Allah. Antara kebencian Allah dengan siksaan Allah tentu mempunyai hubungan kasualitas yang logis. Jadi, apanya yang aneh dan menggelikan?
Kalau kita sudah memahami bahwa penjelasan subjektif adalah bagian dari penjelasan yang benar dengan logika keimanan yang benar, maka antara kasus Tsunami Aceh, Sodom-Ghomorah dan Las Vegas, tidak ada bedanya. Semua itu (dan seisi dunia ini) adalah fitnah bagi manusia.
Penduduk Sodom dan Ghomorah yang kufur kepada Allah dan melakukan kefasikan dan kekejian (homoseks) disiksa oleh Allah setelah terlebih dahulu memberikan informasi rahasia (wahyu) kepada Nabi-Nya untuk menyingkir menyelamatkan diri bersama para pengikutnya.
"Nasib baik sementara" bagi Las Vegas juga merupakan fitnah bagi orang kafir dan fasik sehingga makin bertambah kekafiran dan kefasikannya karena merasa "aman-aman saja". Disamping itu menjadi ujian bagi orang yang beriman; adakah mereka lebih meyakini balasan di akhirat?
Kenapa skenarionya berbeda? Siapa yang maksiat disikat, yang taat dimanja. Al-Quran dan Al-Sunnah tidak semata bercerita tentang hukuman "pemanasan" di dunia bagi kaum yang membangkang tapi juga tentang kesulitan perjuangan para Nabi, kesewenang-wenangan kaum kafir, musiba dan derita yang dialami kaum mukminin bahkan tidak sedikit Nabi yang dibunuh oleh kaumnya.
Allah memang berfirman yang artinya: "Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." [3:137]
Tapi Allah juga berfirman yang artinya: "Jika kamu (muslimun) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafirun) itupun mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia dan supaya Allah mengetahui orang-orang yang beriman (setelah diuji) dan Dia menjadikan diantaramu (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim." [3:140]
Sederhana sekali. Sesederhana pandangan objektif orang-orang kufur, liberal dan sekuler yang memandang suatu kejadian apa adanya, memang sudah begitu. Orang beriman memberi penilaian terhadap dunia dengan pertimbangan syariat dan akhirat. Orang kufur memberi penilaian terhadap dunia dengan dunia semata, materi dan energi, barang dan jasa. Kalau demikian, saya kira tidak beda dengan peradaban kera dan babi. Bedanya hanya pada teknologi.
Apa itu teknologi? Teknis dan cara untuk memaksimalkan manfaat dan meminimalkan madharat. Intinya sama, "bagaimana agar bisa tetap hidup dengan enak". Itulah ideologi "struggle for life"nya Charles "kakek kera" Darwin. Tapi nyatanya apa? Saya tidak yakin bahwa hidup manusia lebih enak daripada kera (tanya saja si kera). Bahkan saya sangat yakin bahwa kualitas dan kuantitas penyakit dan kemelaratan di era teknologi modern jauh lebih banyak daripada di zaman batu dan perunggu. Last but not least, all must die. Fa aina tadzhabuun?
Sebagai illustrasi penutup, di zaman Nabi saw pernah terjadi gerhana matahari bertepatan dengan hari kematian anak Rasul yang bernama Ibrahim. Bayangkan, gerhana matahari, peristiwa langka yang baru terjadi sekali itu dan tanpa prediksi sebelumnya.
Mulailah orang-orang melontarkan penafsiran subjektif yang sekilas cukup "positif" yaitu gerhana matahari sebagai tanda berkabung karena kematian putera Nabi. Mendengar itu, apa komentar Nabi? Beliau sama sekali tidak menggunakan moment itu untuk menaikkan "pamor" kenabiannya. Beliau hanya berkomentar singkat namun padat:
"Matahari dan bulan adalah dua tanda diantara tanda-tanda (kekuasaan) Allah. Dia gerhana bukan karena lahir atau matinya seseorang. Maka apabila kalian melihat terjadinya gerhana itu segeralah mengingat Allah dan melaksanakan shalat!"
Suatu komentar yang menggabungkan secara benar realitas objektif dan realitas subjektif sekaligus! Shallallahu 'alaihi wa alihi wasallam.


![Validate my RSS feed [Valid RSS]](valid-rss.png)


0 komentar:
Poskan Komentar